10 Cara Menjadi Pendengar Yang Baik
10 Cara Menjadi Pendengar Yang Baik
By STUDiLMU Editor
Menjadi pendengar yang baik, ini adalah salah satu komponen penting
dalam pekerjaan. Tidak peduli dimanapun kita bekerja, kemampuan untuk
menjadi pendengar yang baik sangat diperlukan demi kenyamanan dan
kelancaran pekerjaan.
Sayangnya, tidak semua orang mampu dan mau untuk menginvestasikan waktu
mereka untuk berusaha menjadi pendengar yang baik. Terkadang, meskipun
kita sudah berusaha untuk menjadi pendengar yang baik, ada banyak
tantangan yang membuat kita sulit menjadi pendengar yang aktif untuk
orang lain.
Apalagi ditambah dengan kemajuan teknologi, informasi-informasi salah
yang menyebar di media sosial sering membuat kita menjadi seorang yang
mudah menghakimi dan tidak mau mendengarkan orang lain.
Lantas, adakah langkah-langkah khusus yang dapat membantu kita untuk
menjadi pendengar yang baik? Yap tentu saja ada, karena pada artikel
kali ini kita akan membahas kiat-kiat menjadi pendengar yang baik. Yuk,
kita simak penjelasannya di bawah ini.
Menjadi pendengar yang aktif dan baik bisa dengan menerapkan beberapa langkah penting di bawah ini
Langkah 1: Luruskan Niat dengan Mendengarkan Orang Lain untuk Mengerti
Langkah paling utama dalam segala tindakan adalah niat. Agar kita dapat
menjadi sukses, yaitu dengan niat yang kuat dalam bekerja keras. Nah,
sama halnya dengan menjadi pendengar yang baik nih rekan-rekan Career
Advice. Teguhkan niat kita dalam mendengar untuk mengerti apa yang orang
lain ingin sampaikan, bukan sekedar merespon namun tanpa sebuah
pengertian.
Dengarkanlah orang lain dengan pikiran yang terbuka, bukan dengan penuh prasangka. Ketika kita berkomunikasi
dengan maksud untuk memahami, maka kita tidak akan memotong atau
menyela pembicaraan lawan bicara kita sebelum mereka menyelesaikan
kalimatnya.
Ini bukan berarti kita tidak memiliki hak untuk bertanya atau
menyanggah, namun kita tahu dengan baik kapan waktu yang pas untuk
bertanya. Pertanyaan yang diajukan juga bukan untuk menyakiti lawan
bicara, namun untuk memastikan bahwa pesan yang kita terima adalah pesan
yang diinginkan oleh lawan bicara kita.
Dengan menerapkan mendengar untuk memahami, secara tidak langsung kita
menjadi pribadi yang mendengarkan orang lain dengan niat yang tulus.
Kita benar-benar memberikan perhatian yang penuh pada setiap isyarat
yang diberikan pada percakapan, baik verbal maupun nonverbal.
Langkah 2: Berikan SESEDIKIT mungkin interupsi
Langkah kedua ini memiliki keterkaitan dengan langkah sebelumnya.
Dengan niat yang tulus mendengarkan orang lain untuk memahami, maka
akankah lebih baik jika kita tidak banyak menginterupsi apa yang orang
lain sampaikan. Biarkanlah mereka menyelesaikan pembicaraan terlebih
dahulu, dan cari jeda waktu yang tepat untuk bertanya atau
menginterupsi.
Seorang pendengar yang baik akan paham membaca situasi. Dan, tidak akan
menyakiti lawan bicaranya meskipun mereka lambat dalam mengutarakan
pendapat atau selalu berputar-putar dalam berbicara. Selain itu, penting
untuk tidak merasa paling hebat atau paling buruk dalam setiap
pembicaraan. Misalnya sebagai berikut:
Teman Anda: “Saya sedang merasa sedih deh, sudah dua minggu ini saya
tidak mendapat kabar apapun dari perusahaan yang saya lamar, padahal…”
Belum selesai teman Anda berbicara lalu Anda mulai menginterupsinya
dengan, “Oh iya, yah itu mah biasa. Saya juga dulu pernah seperti itu,
malah sepertinya lebih lama deh menunggunya daripada kamu..” Tanpa
disadari kita menyela pembicaraan orang lain dan membuat kesan seakan
keadaan kita jauh lebih buruk dari mereka, atau malah sebaliknya.
Konsekuensinya, jika orang lain merasa tidak atau belum pernah didengar oleh kita, maka mereka akan merasa kesulitan membangun kepercayaan dengan kita.
Langkah 3: Memproses Apa yang Didengar dengan Baik
Setelah memiliki niat yang kuat dalam mendengarkan untuk memahami dan
memberikan sedikit interupsi pada setiap perbincangan, langkah
selanjutnya adalah berhati-hati saat memproses kata-kata yang kita
dengar dari orang lain.
Dalam hal ini, kita harus memproses perkataan lawan bicara dengan
tenang dan berpikir dengan kepala yang dingin. Jangan sampai kita
terlalu sensitif dengan apa yang mereka sampaikan kepada kita, padahal
mungkin maksud dan tujuan mereka sebenarnya baik atau ingin memuji kita.
Contohnya, di kantor saya suka sekali minum air hangat, karena saya
merasa lebih sehat dengan mengonsumsinya daripada selalu minum air
dingin. Salah satu rekan kerja saya yang menyadarinya menyampaikan bahwa
kebiasaan minum air hangat hanya dilakukan oleh para orang-orang tua di
desanya. Sontak, saya kaget dengan ucapan rekan kerja saya. Tidak hanya
itu, saya merasa sangat tersinggung dengan ucapannya.
Namun setelah saya berpikir lebih matang dan tenang, saya mengerti
bahwa dia bermaksud kebiasaan minum air putih adalah suatu kebiasaan
yang baik dan sehat. Tidak seperti anak muda yang selalu mengonsumsi
apapun yang mereka mau, dan secara tidak langsung dia mengatakan bahwa
saya memiliki pola hidup yang sehat.
Sekarang pembaca Career Advice sudah paham kan mengapa memproses
perkataan yang kita dengar dengan sebaik-baiknya adalah hal yang penting
dalam sebuah komunikasi? Dengan memprosesnya sebaik mungkin, ini akan
membantu kita menjadi pendengar yang baik.
Langkah 4: Coba Ulangi Kembali
Langkah keempat ini adalah mengulangi kembali apa yang kita tangkap
dari pembicaraan antara kita dengan lawan bicara. Kiat hebat ini sering
dilakukan oleh karyawan yang bekerja dalam pelayanan pelanggan atau customer service.
Sebelumnya, apakah rekan-rekan Career Advice pernah menelpon bagian
customer service untuk memberikan keluhan terkait suatu produk yang
rekan pembaca gunakan? Nah, saat Anda menelepon mereka dan mencoba
menyampaikan keluhan, maka di akhir pembicaraan mereka akan berusaha
untuk mengulangi kembali poin-poin penting yang Anda utarakan. Betul
tidak?
Sebagai contoh, Anda mengatakan bahwa sabun pencuci muka yang Anda
terima sampai dengan bungkus yang sudah terbuka dan harumnya sudah tidak
sama lagi.
Mereka akan coba untuk mengulangi kembali dengan “Baik ibu, saya coba
untuk ulangi kembali ya atas keluhan terkait produk kami bahwa ibu
menerima produk kami dengan kemasan produk yang segelnya sudah terbuka
dan dengan harum yang sudah memudar, apakah poin yang saya sampaikan ini
benar, bu?”
Kita juga bisa melakukan ini dengan lawan bicara kita, meskipun kita
tidak bekerja sebagai customer service. Dengarkan percakapan dengan
menangkap sebanyak mungkin, dan berikan kesimpulan dari poin-poin
penting yang disampaikan oleh lawan bicara kita.
Langkah 5: Berikan Kontak Mata yang Baik
“Eh dengerin dong, aku lagi ngomong nih”
“Iya ini aku sambil dengerin kamu, meskipun tangan aku sambil ngetik dan menghadap laptop”
Apakah rekan-rekan Career Advice pernah mengalami hal tersebut? Jika
ya, bagaimana rasanya jika kita berbicara, namun lawan bicara kita tidak
menatap mata kita? (teralihkan oleh hal lain). Jawabannya pasti sangat
menyebalkan, bukan?
Satu hal yang perlu kita ketahui, mendengarkan secara aktif adalah
tentang mendengarkan orang lain dengan seluruh tubuh dan indera kita.
Kita tidak dapat mendengarkan orang lain dengan konsentrasi yang baik,
jika kita menghadap kepada suatu hal yang lain.
Lakukan kontak mata yang baik dengan individu tersebut selama
percakapan berlangsung. Ini akan membantu kita lebih memahami kata-kata
yang diucapkan, ekspresi wajah, serta gerakan yang dilakukan oleh orang
tersebut.
Langkah 6: HINDARI gangguan media sosial (melalui gadget)
Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, kita mungkin sudah berusaha
untuk menjadi pendengar ya baik, namun kemajuan teknologi seringkali
mengganggu konsentrasi kita. Sebagai contoh, saat kita sedang mengadakan
pertemuan penting dengan klien, tiba-tiba ponsel kita menyala dan
terdapat notifikasi bahwa seseorang memberikan komentar pada foto kita
di Instagram.
Detik itu juga kita mulai tidak fokus dengan pembicaraan yang
disampaikan oleh klien. Otak kita mulai meraba-raba, kira-kira komentar
apa ya yang saya dapatkan pada foto terbaru saya? Dan berbagai pemikiran
lainnya yang sangat mengganggu. Untuk menjadi pendengar yang baik, coba
kurangi gangguan media sosial yang kita miliki. Bisa dengan
mengaktifkan mode senyap pada ponsel atau menonaktifkan notifikasi media
sosial saat kita sedang berbicara dengan orang lain.
Langkah 7: Mencondongkan badan
Ini adalah salah satu kiat yang baik saat rekan pembaca sedang merasa
lelah atau tidak bisa memberikan energi sepenuhnya untuk mendengarkan
lawan bicara. Namun untuk dapat menjadi pendengar yang baik, kita harus
tetap memberikan upaya yang maksimal dalam mendengarkan mereka. Kami
menyarankan rekan pembaca untuk mencondongkan badan.
Mencondongkan badan akan memberikan kita energi yang diperlukan untuk menjadi pendengar yang lebih baik.
Ketika kita sedang mengobrol dan sangat tertarik dengan apa yang
dikatakan oleh seseorang, cobalah untuk mencondongkan badan seolah-olah
Anda berdua duduk di sebelah atau di seberang satu sama lain. Atau, jika
Anda sedang berdiri di samping pembicara, cobalah untuk berdiri cukup
dekat dengan orang itu untuk berkomunikasi dan memberikan kesan bahwa
Anda tertarik pada percakapan mereka.
Langkah 8: Memahami dan Merasakan Posisi Orang Lain
Kami tahu bahwa ini adalah hal yang sulit, namun ini merupakan suatu
hal yang dapat dicoba dan dapat dilatih secara terus-menerus. Menjadi
pendengar yang baik itu lebih dari sekedar memahami. Kita juga perlu
merasakan apa yang orang lain rasakan saat mereka menyampaikan suatu hal
kepada kita. Dengan melakukan ini, kita juga dapat mengembangkan rasa
empati kepada lawan bicara kita.
Langkah 9: Jangan Terlalu Cepat Menghakimi Orang Lain
Agar kita benar-benar bisa menjadi pendengar yang baik, kita tidak
boleh terlalu cepat dalam menghakimi orang lain. Coba kita kembali pada
contoh sebelumnya, saat teman dekat Anda bercerita bahwa sudah dua
minggu dia tidak mendapat kabar apapun setelah wawancara kerja
dengan perusahaan yang ia lamar. Mendengar hal tersebut, kita langsung
menyimpulkan bahwa teman kita tidak kompeten atau tidak memberikan upaya
yang maksimal pada saat wawancara.
Kami sangat tidak menyarankan rekan pembaca melakukan hal ini, karena
ini malah akan membuat kita menjadi pendengar yang buruk dan tidak
memahami orang lain.
Langkah 10: Tulis Dalam Catatan Kecil
Ini adalah langkah terakhir yang bisa kita lakukan untuk menjadi
pendengar yang baik. Cara ini juga memiliki keistimewaan lainnya yaitu,
tidak mengganggu seseorang ketika mereka berbicara. Dengan begitu,
kita bisa mendengarkan sambil membuat catatan kecil, sehingga tidak
mengganggu pembicaraan lawan bicara kita. Nilai positif lainnya, kita
dapat terus mengingat poin-poin penting yang disampaikan di dalam
percakapan tersebut.
Nah, itu dia 10 langkah yang diterapkan oleh orang-orang yang berusaha
dan telah berhasil menjadi pendengar yang baik. Jangan lupa ya, bahwa
menjadi pendengar yang baik merupakan salah satu komponen penting dalam
berkomunikasi dengan orang lain, dan ini juga akan memberikan dampak
yang positif pada pekerjaan kita. Selamat mencoba, rekan-rekan Career
Advice.
bagus artikelnya, lebih lanjut bisa klik disini...
BalasHapus1. http://aqiqahnurulhayat.com/admin/news/201020025542512
2. http://enhamart.com/aqiqah-bandung-murah/
3. https://laukpauk.online/aqiqah-bandung-murah/
4. http://aqiqahcimahi.online/aqiqah-bandung-murah-2/
5. https://aqiqahbandungpertama.blogspot.com/2020/10/aqiqah-bandung-murah_19.html
6. http://aqiqahnurulhayat.com/admin/news/201020035557095
7. http://enhamart.com/aqiqah-jogjakarta-murah/
8. https://laukpauk.online/aqiqah-jogjakarta-murah/
9. http://aqiqahcimahi.online/aqiqah-jogjakarta-murah/
10. https://aqiqahjogjamantab.blogspot.com/2020/10/aqiqah-jogjakarta-murah.html